Jumat, 4 September 2026 · 16:48 Portal Berita Terpercaya
Terbaru
HUKUM

Dua Tersangka Penipuan Email Bisnis Ditangkap, Kerugian Rp6,2 Miliar

JAKARTA — Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri mengungkap kasus penipuan email bisnis atau Business Email Compromise (BEC) yang menargetkan perusahaan asal Amerika Serikat. Dalam kasus tersebut, polisi menangkap dua tersangka yang diduga memiliki peran dalam jaringan penipuan lintas negara, sementara satu orang yang disebut sebagai pengendali utama masih dalam pencarian.

Kasus kejahatan siber dengan modus Business Email Compromise (BEC) ini menyebabkan perusahaan asal Amerika Serikat, IQ Power Tools, mengalami kerugian sekitar USD 350.325 atau setara Rp6,2 miliar.

Kasubdit I Dittipidsiber Bareskrim Polri Kombes Deddy Supriadi mengatakan terdapat tiga orang yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut. Dua tersangka yang telah diamankan masing-masing berinisial LPK (56), warga negara Indonesia, dan LJ (46), warga negara China.

Sementara itu, seorang tersangka berinisial CW, yang diduga berada di China dan berperan sebagai pengendali utama jaringan, masih dalam pencarian.

Modus Penipuan Business Email Compromise

Kasus ini bermula dari transaksi bisnis antara IQ Power Tools, perusahaan asal Amerika Serikat, dengan Duro Machinery Corp., perusahaan asal China.

Dalam menjalankan aksinya, CW diduga melakukan serangan malware terhadap sistem komunikasi perusahaan korban. Serangan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi elektronik yang seolah-olah berasal dari mitra bisnis resmi.

Pelaku selanjutnya mengirimkan email palsu yang menyerupai komunikasi bisnis resmi. Email tersebut digunakan untuk mengarahkan pembayaran transaksi ke rekening yang telah disiapkan oleh jaringan pelaku.

Modus seperti ini dikenal sebagai Business Email Compromise (BEC), yaitu bentuk penipuan siber yang memanfaatkan komunikasi email bisnis untuk mengelabui korban agar melakukan transfer dana kepada rekening yang dikendalikan pelaku.

Peran Dua Tersangka dalam Sindikat

Penyidik mengungkap adanya pembagian peran dalam jaringan tersebut.

Tersangka LPK diduga membantu mendirikan perusahaan fiktif di Indonesia yang kemudian digunakan sebagai tempat penampungan dana hasil penipuan.

Perusahaan tersebut diduga menggunakan nama PT Aksesoris Andalan Bersama. Polisi menduga perusahaan itu dilengkapi dokumen dan alamat yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Sementara itu, tersangka LJ diduga berperan sebagai penghubung komunikasi antara CW dengan pihak lain yang membantu menjalankan aksi penipuan.

Kedua tersangka disebut dijanjikan komisi sebesar 5 persen dari setiap dana yang masuk ke rekening penampungan. Dengan demikian, total keuntungan yang dijanjikan kepada keduanya mencapai sekitar 10 persen dari transaksi yang berhasil dilakukan.

Perusahaan Amerika Serikat Mengalami Kerugian Rp6,2 Miliar

Akibat aksi tersebut, IQ Power Tools mengalami kerugian sekitar USD 350.325 atau sekitar Rp6,2 miliar.

Setelah melakukan penyelidikan, Bareskrim Polri kemudian memblokir rekening perusahaan yang diduga digunakan sebagai tempat penampungan dana.

Dari rekening tersebut, penyidik berhasil mengamankan dana sekitar USD 285.859 atau kurang lebih Rp5 miliar yang kemudian menjadi bagian dari barang bukti dalam penyidikan.

Bareskrim Polri Bekerja Sama dengan FBI

Kasus ini masih terus dikembangkan oleh Dittipidsiber Bareskrim Polri. Mengingat dugaan keterlibatan pelaku yang berada di luar Indonesia, penyidik juga melakukan kerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) untuk mengejar CW yang diduga sebagai pengendali utama.

Polisi juga masih mendalami kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam jaringan penipuan tersebut.

Kerja sama lintas negara menjadi penting dalam penanganan kasus BEC karena modus ini dapat melibatkan pelaku, perusahaan korban, rekening penampungan, dan infrastruktur digital yang berada di negara berbeda.

Waspada Ancaman Business Email Compromise terhadap Perusahaan

Kasus ini menjadi pengingat bagi perusahaan untuk meningkatkan keamanan komunikasi bisnis, terutama transaksi yang melibatkan pembayaran dalam jumlah besar.

Perusahaan perlu melakukan verifikasi tambahan terhadap instruksi pembayaran yang diterima melalui email, khususnya ketika terdapat perubahan nomor rekening, perubahan instruksi pembayaran, atau permintaan transfer yang tidak biasa.

Penggunaan sistem keamanan email, autentikasi berlapis, serta prosedur verifikasi internal dapat membantu mengurangi risiko menjadi korban penipuan Business Email Compromise.

Bagikan: